Tampil perdana di hadapan publik, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, langsung melemparkan ancaman keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Selat Hormuz akan terus ditutup, dan serangan ke pangkalan AS di Timur Tengah tidak akan berhenti.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya muncul di hadapan publik sejak resmi dilantik pada 9 Maret 2026. Dalam pernyataan yang dibacakan di stasiun televisi pemerintah Iran pada Kamis (12/3/2026), Mojtaba mengeluarkan sumpah balas dendam yang menggetarkan terhadap Amerika Serikat dan Israel — sekaligus menegaskan bahwa “pembalasan adalah prioritas, sampai sepenuhnya tercapai.”
Munculnya Mojtaba ke publik terjadi pada hari ke-13 perang Iran melawan koalisi AS dan Israel, di tengah konflik yang terus meluas ke berbagai penjuru Timur Tengah. Pernyataannya dibacakan oleh orang lain di televisi negara, tanpa menampilkan video maupun foto dirinya secara langsung — sebuah tanda bahwa kondisi keamanan di sekitar pemimpin baru itu masih sangat ketat.
Sumpah Darah untuk Para Martir
Dengan nada defiansi yang kuat, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan berhenti sebelum darah para syuhada terbalas. Ia secara khusus menyebut insiden tragis pada 1 Maret 2026, ketika serangan menghantam sebuah sekolah perempuan di kota Minab, menewaskan setidaknya 165 orang, sebagian besar anak-anak. Militer AS saat ini tengah menyelidiki keterlibatannya dalam serangan tersebut.
“Kami akan membalas darah para martir kami,” demikian bunyi pernyataan Mojtaba yang dikutip Al Jazeera. Ia juga menegaskan Iran akan terus menggempur pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah selama pangkalan-pangkalan itu tidak ditutup.
Selat Hormuz Tetap Tertutup
Mojtaba mengumumkan bahwa Selat Hormuz — jalur pelayaran vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia — akan terus ditutup sebagai senjata tekanan terhadap musuh-musuh Iran. Langkah ini berpotensi memperdalam guncangan ekonomi global, seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi yang kian menipis akibat eskalasi konflik.
Meski demikian, Mojtaba menegaskan bahwa Teheran tetap menjunjung persahabatan dengan negara-negara Arab di kawasan tersebut. Ia bahkan menyerukan persatuan nasional Iran dalam menghadapi ancaman dari luar, sembari menyebut kelompok-kelompok bersenjata di Yaman dan Irak sebagai pihak yang siap “membantu revolusi Islam.”
Putra yang Mewarisi Dendam Pribadi
Mojtaba Khamenei, 56 tahun, naik ke puncak kekuasaan Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026 — hari pertama pecahnya perang terbuka. Tragedi itu tidak hanya merenggut sang ayah yang telah memimpin Iran selama 37 tahun. Menurut laporan Newsweek, dalam rangkaian serangan tersebut Mojtaba juga kehilangan istri, ibu, saudara perempuan, dan putranya sendiri — menjadikan sumpahnya bukan sekadar retorika politik, melainkan juga dendam yang sangat personal.
Majelis Ahli Iran, badan beranggotakan 88 ulama senior, kemudian memilih Mojtaba secara aklamasi pada 9 Maret 2026 sebagai pengganti ayahnya. Pemilihan ini berlangsung di tengah ancaman terang-terangan dari Angkatan Darat Israel yang memperingatkan akan menyerang siapa pun yang ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.
Reaksi Dunia: Trump Mengancam, Putin Mendukung
Reaksi internasional terhadap kemunculan Mojtaba langsung bermunculan. Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai “lightweight” (figur lemah), memperingatkan bahwa langkah Iran mengangkat Mojtaba adalah “kesalahan besar” dan bahwa dirinya “tidak akan bertahan lama.” Kementerian Luar Negeri Israel menyebut Mojtaba sebagai “tiran seperti ayahnya” dan menegaskan tangan IDF akan terus memburu setiap pemimpin Iran.
Sebaliknya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dukungan penuh kepada Teheran, menegaskan bahwa Rusia “telah dan akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan” bagi Iran. Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani juga menyatakan solidaritas dan ucapan selamat kepada pemimpin baru Iran tersebut.
Di dalam negeri Iran sendiri, masyarakat masih terbelah. Sebagian besar IRGC dan kubu garis keras menyambut Mojtaba dengan penuh kesetiaan, sementara sebagian warga yang kelelahan secara ekonomi — pascagelombang protes besar Desember dan Januari lalu — masih meragukan kepemimpinan putra mahkota revolusi ini.
