Jakarta, superwawasan.com — Dunia kembali dikejutkan oleh eskalasi militer yang semakin membara di kawasan Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) merilis rekaman dramatis yang memperlihatkan detik-detik peluncuran serangan rudal gelombang ke-39 dan ke-40 dalam Operasi True Promise 4 — operasi militer balasan Iran yang dilancarkan siang dan malam hari. Rekaman itu langsung viral dan memantik perhatian dunia.
Dalam footage yang beredar, terlihat deretan rudal balistik berat melesat dari peluncur darat dengan asap tebal mengepul ke langit. Yang membuat banyak pihak terkejut, beberapa rekaman memperlihatkan rudal-rudal tersebut terpecah menjadi beberapa hulu ledak di tengah penerbangan — mengindikasikan penggunaan teknologi Multiple Reentry Vehicle (MRV) yang canggih dan mematikan.
Dalam gelombang serangan sebelumnya, IRGC mengklaim menggunakan beberapa generasi terbaru persenjataan mereka, termasuk rudal Emad, Qadr, Kheibar, dan Khorramshahr yang dilengkapi dengan beberapa hulu ledak sekaligus. IRGC menegaskan bahwa seluruh rudal yang diluncurkan berhasil menghantam target dengan tingkat presisi tinggi.
Di sisi lain, militer Israel mengaku kesulitan menghadapi ancaman ini. Sekitar setengah dari ratusan rudal balistik yang diluncurkan Iran diketahui membawa hulu ledak bom tandan — jenis amunisi yang mampu menyebarkan puluhan submunisi dalam radius luas. Meski sebagian besar berhasil dicegat, beberapa rudal dilaporkan meledak di wilayah Israel, menewaskan dua orang dan melukai lebih dari dua ribu lainnya.
Konteks dari eskalasi ini berawal ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada 28 Februari 2026, yang turut mengakibatkan gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sejak saat itu, Iran merespons dengan melancarkan ratusan rudal dan drone ke berbagai sasaran di kawasan, termasuk ke Israel, pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Perang yang kini membara di Timur Tengah ini menjadi salah satu konflik terbesar dan paling kompleks dalam sejarah modern — dan dunia terus menahan napas menunggu langkah berikutnya.
