Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir atau rob yang diprediksi akan menerjang sejumlah wilayah pesisir Indonesia tepat pada periode libur Lebaran 2026. Fenomena alam ini dipicu oleh adanya fase bulan baru yang bertepatan dengan pergerakan arus mudik, sehingga meningkatkan tinggi pasang air laut secara signifikan. Kondisi ini menjadi alarm keras bagi para pemudik yang berencana melintasi jalur pantai utara (Pantura) maupun warga yang tinggal di kawasan tepian laut.
Kepala BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kenaikan volume air laut yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada jam-jam tertentu. Wilayah yang masuk dalam zona merah meliputi pesisir utara Jawa, pesisir Kalimantan Barat, hingga sebagian wilayah pesisir selatan Sulawesi. “Kombinasi antara pasang air laut dan potensi hujan lebat di beberapa wilayah dapat memperburuk kondisi genangan, sehingga akses jalan di wilayah pesisir berisiko terganggu,” ungkap perwakilan BMKG dalam rilis resminya.
Fenomena rob ini diperkirakan tidak hanya mengganggu mobilitas kendaraan di jalur utama mudik, tetapi juga berpotensi menggenangi area pemukiman dan tempat wisata pantai. Masyarakat yang berencana menghabiskan waktu libur Idulfitri di destinasi pesisir disarankan untuk terus memantau pembaruan data cuaca secara berkala. Langkah mitigasi seperti pembersihan saluran drainase dan pengamanan barang-barang berharga di area rawan sangat disarankan untuk dilakukan lebih awal guna meminimalisir kerugian materiil.
BMKG juga berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan dan BPBD setempat untuk menyiapkan langkah darurat jika ketinggian air melampaui batas aman. Bagi para pengemudi, penting untuk memahami bahwa air laut yang asin bersifat sangat korosif bagi kendaraan, sehingga sangat disarankan untuk menghindari genangan rob jika memungkinkan. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci agar tradisi Lebaran tahun ini tetap berjalan lancar meski di tengah bayang-bayang tantangan alam yang tidak menentu.
