Internasional

Klaim Berani Teheran: Kawanan Drone Garda Revolusi Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln di Selat Hormuz

Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang sangat mengkhawatirkan setelah pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah berhasil meluncurkan serangan drone yang menghantam kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa kawanan drone tempur tersebut menyasar kapal induk kebanggaan Pentagon saat sedang bermanuver di dekat perairan strategis Selat Hormuz. Insiden ini memicu kepanikan di jalur pelayaran energi global dan membuat harga minyak dunia kembali bergejolak.

Dalam pernyataan resminya, komando militer Iran menyebutkan bahwa operasi udara tersebut merupakan respons langsung atas agresi militer yang terus dilakukan pasukan koalisi di wilayah kedaulatan mereka. “Drone kami telah membuktikan bahwa tidak ada aset musuh yang tidak tersentuh, termasuk benteng terapung mereka,” tegas juru bicara IRGC. Klaim tersebut bahkan menyebutkan bahwa pasca-serangan, USS Abraham Lincoln terpaksa mundur menjauh hingga radius 1.000 kilometer dari posisi awalnya untuk menghindari serangan susulan yang lebih destruktif.

Namun, laporan dari pihak Teheran ini segera dibantah keras oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Pejabat pertahanan AS di Washington menyatakan bahwa laporan serangan drone tersebut adalah informasi palsu atau propaganda. Menurut Pentagon, USS Abraham Lincoln tetap beroperasi secara normal dan tidak ada kerusakan maupun korban jiwa yang dilaporkan. Meskipun demikian, AS mengakui adanya aktivitas drone agresif milik Iran yang berhasil diintersep oleh pesawat tempur F-35C sebelum sempat mendekati radius berbahaya kapal induk tersebut.

Situasi di lapangan tetap dalam status siaga tertinggi, mengingat sebelumnya militer AS juga telah meluncurkan serangan terhadap kapal induk drone milik Iran, IRIS Shahid Bagheri. Saling klaim dan aksi saling serang antar-aset laut ini mempertegas bahwa Selat Hormuz kini telah menjadi zona perang terbuka. Para analis keamanan internasional memperingatkan bahwa satu saja serangan yang berhasil mengenai sasaran vital bisa menjadi pemicu perang total yang akan menyeret banyak negara ke dalam konflik bersenjata yang sulit dikendalikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button